Samar-samar
ku tatap semesta,
Tampak
lautan membentang hingga pangkal perbukitan.
Semilir
angin mencoba meredam gemuruhnya hati yang tak terkendali.
Ada
apakah gerangan ?
Berusaha
mengingat-ingat kembali,
tentang
apa yang telah dilalui..
Banyak,
banyak sekali.
Tapi,
dari sekian banyak itu,
tak
tercantum sebuah langkah,
yang
dulu menjadi muara bagi kebahagiaan,
yang
dulu selalu terjadwalkan,
yang
dulu begitu menenteramkan,
ialah
kepulangan menuju kampung halaman.
Ada
apakah gerangan ?
Roda-roda
berbahan dasar karet itu pun tiba,
di
sebuah kota semi metropolitan.
Kota
yang menjadi saksi atas pertumbuhan dan perjuangan,
Kota
yang dahulu menyimpan penawar bagi desas-desus hati.
Tapi,
kini, kenapa gemuruh itu tak kunjung berakhir ?
Ada
apakah gerangan ?
Sepi,
sedu, dan sunyi..
Adalah
penggambaran yang layak untuk setiap sudut ruangnya,
sebuah
rumah yang dahulu menjadi pelipur lara,
kini
ia menjadi begitu hampa.
Ini
kah yang mereka rasa ?
Ketika
satu per satu buah hatinya melanglang buana,
pergi
menjauh, mencari penghidupan sendiri ke tanah seberang.
Tak
ada lagi pertanyaan yang saut-bersaut tentang keberadaan barang masing-masing,
tak
ada lagi permintaan yang saut-bersaut tentang keinginan masing-masing,
tak
ada lagi canda, tawa, dan tengkar yang terkadang menimbulkan kebisingan di
tengah waktu istirahatnya.
Maaf,
maafkan kami, Ummi dan Abi.
Kami
yang terlalu terlena dengan kehebringan dunia baru kami disana,
Kami
yang terlalu sok sibuk dengan kegiatan-kegiatan berkedok mulia disana,
kami
lupa, bahwa aktivitas paling mulia untuk kami adalah memuliakan engkau berdua.
Maafkan
hati yang mulai mendingin ini, semoga ia lekas mencair.
Beribu
maaf, belum bisa menjawab 'Ya' untuk pertanyaan Ummi pagi
tadi, "Pulangnya sampai lebaran kan ?".
-------------------------------
Saibumi,
10 Mei 2018
-FA-
Komentar
Posting Komentar