Langsung ke konten utama

[Evernote] Cinta Yang Terlupakan

Bismillahirrohmanirrohiim...

Tepat hampir seminggu, tubuh ini merasa tersendat untuk bernafas, seakan ada antrean yang menyebabkan kemacetan total di rongga pernafasan, mulai dari hidung hingga tenggorokan. Nikmat yang sedang Allah berikan sebagai bentuk lampu kuning agar ruh ini lebih mencintai jasad tempatnya bernaung.

Dan, hari ini, di pagi ini, ahad, ada agenda pertama sebagai pemula satuan waktu bernama pekanan.
Halaqoh, lingkaran yang di dalamnya tercipta liqo, pertemuan antar hamba-hambaNya yang saling mengasihi lagi berjuang mencari pintu-pintu keridhoan Allah swt.

Qodarullah, beberapa jam sebelum jadwal yang disepakati, guru sekaligus ummi di perantuan, yaitu murrobiah ku mengabarkan bahwa esok hari kami ditugaskan untuk halaqoh mandiri, bersebab tubuh khususnya pergelangan tangan kanan beliau sedang meminta haknya untuk istirahat.

Tentu ini bukan sakit yang sederhana, sebab memang terdapat luka yang sudah cukup lama Ummi rasakan di pergelangan tangannya itu. Yang setiap ku tanya, "Mi, ini tangannya kenapa di perban?" Beliau selalu menjawab, "Ngga papa Fitri. Hehe". Persis, persis seperti Ummi kandungku, dan mungkin setiap Ummi yang ada di muka bumi ini. Mereka yang selalu tidak ingin membuat anak-anak kecilnya khawatir.
-------------
Pagi pun tiba, entah mengapa, tekadku untuk hadir halaqoh pekan ini cukup kuat, sekalipun hanya halaqoh mandiri. Tidak seperti biasanya, yang aku sepelekan jika hanya halaqoh mandiri.

Bukan, bukan bersebab keimananku yang sedang meningkat. Tapi ini sebagai pelipur hati atas keputusan yang salah untuk memilih tidak pulang ke Lampung Jumat kemarin. Daripada waktuku sia-sia lebih baik aku keluar kosan, sebab tubuh ini sepertinya memang membutuhkan udara dan sinar mentari pagi.
-------------
Dan tibalah aku di tempat yang Allah berkahi, Masjid Ukhuwah Islamiyyah pada pukul 10.20 untuk menghadiri halaqoh yang dijadwalkan pukul 06.00 hehe.

Tapi sesampainya aku di sebuah lingkaran yang berisi tiga kakak senior itu, ternyata halaqohnya belum mulai, ketiga kakak ini masih asyik menghabiskan konsumsi pagi yang di dapat dari Program Kajian Ahad Pagi. Ya, satu keberkahan yang Allah limpahkan di halaqoh ini adalah ada satu diantara kami yang menjadi panitia bagian konsumsi KAP, yang selalu membawa konsumsi berlebih. Hehe.
Akhirnya aku yang baru saja makan, menunggu ketiga kakak ini makan sembari mengobrol tentang banyak hal, mulai dari structural equation model, investasi emas batangan, hingga solusi terbaik untuk tidak berambisi S2 di LN, yaitu menikah. Haha.
-------------
Selesai makan dan berbincang, seorang kakak akhirnya membuka halaqoh ini dengan taawudz, basmalah, sholawat, dan juga doa-doa terbaik penuh cinta untuk setiap peserta halaqoh, termasuk aku yang didoakan semoga lekas diangkat penyakit flunya.

Sebuah doa yang kemudian menyadarkanku, tentang cinta yang terlupakan. Tentang kecintaan Allah kepada hambaNya yang berkumpul dengan niat mengagungkan keesaanNya. Tentang sebuah lingkaran tempat terlahirnya mimpi-mimpiku sebelas tahun lalu. Jiwa ini pun bergetar, betapa ia telah melupakan tempat ternyaman yang paling ia cari bersebab rindu ketika menginjakkan kaki di kampus kuning nan hijau ini. Tempat yang meyakinkannya bahwa ia bebas bermimpi setinggi apapun, sebab insyaa Allah semua mimpi itu akan terwujud.

Allahu robbi... betapa lupa diri ini akan fasilitas terbaik yang telah engkau berikan, lingkaran yang sekalipun tidak berbentuk lingkaran dengan beribu malaikat membersamainya. (':
Dan sore ini, ketika aku menulis catatan ini, aku sedang merasakan keajaiban yang dulu selalu aku rasakan. Sebuah kemujaraban doa buah dari keberkahan lingkaran cinta itu. Setidaknya, bagian dari fluku ada yang sudah reda, iya, nafasku sudah cukup lega, meski masih diiringi batuk, alhamdulillah. Terimakasih yaa Robbi..

Terimakasih lingkaran tercinta.
Terimakasih untuk hidayah yang telah kembali engkau siramkan ke dalam hati yang mungkin hampir tertutup sebab debu yang begitu tebal. (":

Wallahu'alam bi showwab.
Kukusan, 15 April 2018
FA

Komentar