1717 Masehi
Dahinya mengrenyit, "Usai sudah segala penantian panjangku.", dendangnya membatin setelah mendengar daftar permintaan janji yang diajukan oleh Pingkan, manusia yang tak pernah henti menghantui pikirannya.
Selama ini Minke telah memiliki firasat tentang tidak terbalasnya rasa darinya untuk Pingkan, sahabatnya. Walau, secara kasat mata dan perbuatan Pingkan seakan membalasnya, namun semua itu tak lebih sebagai bentuk keterpaksaan atau bahasa hayunya, 'segan-sungkan'.
Pingkan memang tipe manusia yang sungkan, tidak enakan, itu yang menyebabkannya seringkali over thinking dan menjerumuskannya pada lingkaran keterpaksaan, pura-pura. Seperti perlakuannya selama ini kepada Minke.
---
"Ini bukan yang pertama, sudah kesekian kali Minke!", cercanya pada diri sendiri agar ia segera sadar bahwa harap dan husnudzon-nya selama ini telah sia-sia. Memang ini bukanlah permohonan janji yang pertama diajukan oleh Pingkan, beberapa waktu sebelumnya setidaknya sudah dua kali Pingkan mengajukannya. Daftar permintaan yang intinya untuk mengurangi intensitas pertemuan diantara keduanya.
Syukurnya, kali ini hati Minke cukup kokoh, tidak seperti yang lalu, Minke tak pernah berhasil menahan mendung bola kembar kedua matanya. Secara lisan Minke hanya berusaha untuk tidak menyetujui permintaan Pingkan sembari mencoba menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan yang telah ia perkirakan selama ini.
Sebab, Minke sadar bettul bahwa tidak ada yang harus dipertahankan lagi, jika ia hanya berjuang sendiri. Sudah terlalu cukup prasangka diri menghianati hatinya sendiri.
Bukankah berjuang sendiri tidak pernah menyenangkan ? Ya keputusan (yang semoga) tepat Minke!
~bersambung...
Komentar
Posting Komentar