Langsung ke konten utama

Rindu Dalam Sadar


Membandingkan satu hal dengan yang lain tentu hal yang kurang baik. Lebih-lebih jika yang dibandingkan adalah masa lalu dengan masa kini, masa yang selalu ditemui, masa dimana jiwa ini berada. Namun, apalah daya diri manusia yang baru saja mengalami mobilisasi kehidupan. Terkadang selalu muncul berbagai pertanyaan didalam hati, jiwa, dan pikiran ini mengenai situasi di lingkungan baru ini. Pertanyaan itu selalu muncul dan diri ini pun belum pernah dapat menjawab dengan sebuah jawaban yang meyakinkan untuk menyalahkan situasi yang membuat frekuensi kegundahan jiwa meningkat. Pertanyaan demi pertanyaan selalu terucap kepada orang-orang yang bisa dikatakan sama atau sejenis dengan orang-orang dimasa lalu, orang-orang yang selalu memberikan ketenangan didalam jiwa jika bertemu dan berkumpul dengannya, orang-orang yang selalu membangkitkan semangat ketika menatap wajahnya, orang-orang yang selalu memberikan jawaban-jawaban atas permasalahan yang ada.  Mungkin kata sejenis atau identitas yang sama tidaklah selalu membuat pribadi dua orang yang berbeda menjadi mirip satu sama lain. Sungguh hal ini bukan karena perbedaan mazhab, guru, atau murobbi maasing-masing dari mereka. Karena, pastilah apa yang mereka dapatkan adalah sama. Ya, sama-sama untuk mensyiarkan kebaikan kepada penghuni negeri ini. Namun, ada sesuatu yang membuat mereka berbeda. Entahlah apakah itu penilaian dari rasa pembelaan diri ini yang ingin mendapat jawaban yang menegaskan kesalahan pada lingkungan ini atau memang perbedaan itu nyata adanya. Jawaban-jawaban pasti yang  selalu diharapkan dari orang-orang masa kini pun jarang teraih. Entahlah, tak ada maksud untuk menyalahkan mereka, tak ada maksud untuk memaksa mereka menjadi seorang yang mirip seperti orang di masa lalu. Ya, karena jiwa ini pun takut, takut jikalau perasaan gundah yang selalu muncul ini adalah kesalahan dari diri ini sendiri, ya itulah jawaban yang selalu dapat menghentikan pikiran yang terus menyalahkan orang-orang tak bersalah itu.
                Rindu akan kehidupan yang selalu diiringi dan diselimuti semangat yang menggelora untuk melakukan kebermanfaatan, rindu akan setiap diskusi yang mengajarkan sebuah penyelesaian terbaik untuk setiap masalah, rindu akan obrolan-obrolan mengenai kebesaran Allah, rindu akan canda dan tawa yang bermanfaat, rindu untuk melakukan pengorbanan, rindu untuk berkontribusi, rindu untuk melakukan aksi, rindu akan masa lalu yang selalu menumbuhkan rasa bahagia disetiap kesederhanaan ketika bersama. Terkadang terlintas didalam hati ini apakah mungkin masa kini mengalami transisi kondisi ke masa lalu. Andaikata bisa, tidaklah mungkin tulisan ini hadir.
                Dalam diam diri ini selalu mencoba untuk mengamati lingkungan ini, dalam diam diri ini selalu mencoba mencari celah yang akan menghubungkanku dengan mentari yang dapat memancarkan kehangatan semangat kepada hati dan jiwa diri ini, dalam diam diri ini selalu mencoba mencari tempat yang tepat yang mampu memberikan kenyamanan, dalam diam diri ini selalu mencoba mencari alasan untuk terus mempertahankan rasa sayang dan cinta kepada mereka ditengah beribu pertanyaan yang terus mencoba menggugurkan perasaan-perasaan tersebut.
                Sadar bahwa ada yang salah dengan rasa gundah ini, sadar bahwa tak seharusnya memperpanjang hal ini, sadar bahwa rasa ini hanya akan sia-sia, sadar bahwa rasa ini hanya akan semakin menghancurkan jiwa dan hati yang sudah dibangun untuk menjadi tangguh sehingga kuat menghadapi sesuatu yang buruk seperti rasa kegundahan ini.
                Sungguh, sebenarnya jiwa ini sadar bahwa ada tugas lain yang harus dilakukan, sadar bahwa sudah ada beribu manusia yang mengharapkan kontribusi nyata dari orang-orang yang tertarbiyah, dan tentunya diri ini pun sangat sadar bahwa sudah banyak pihak yang berkorban dan mengharapkan keberhasilan diri ini pada bidang keilmuan.
                Namun, beginilah manusia yang selalu saja mempertahankan ego, tak ingin mengatakan dirinya bodoh tetapi terus melakukan hal yang memaksanya untuk mengatakan bodoh kepada dirinya. Penyesalan itu datang ketika beberapa bahkan berpuluh-puluh kalimat suci hilang dari ingatan, penyesalan itu datang ketika beberapa kalimat-kalimat sakral dalam kehidupan hilang dari ingatan. Entahlah, hati ini tak ingin terus menyalahkan jiwa yang dipimpinnya. Biarlah rasa gundah ini terus merajut sangkarnya hingga tiba saat derasnya hujan semangat yang permanen menghancurkannya dari pangkal sampai ke ujung benang kegundahan.  Biarlah penyesalan ini hadir untuk menumbuhkan beribu-ribu kesadaran yang akan memperkecil probabilitas kehadirannya pada diri ini.
                Karena sungguh hati ini masih dan akan terus menyayangi dan menjaga seluruh insan yang bersama-sama berada dijalan yang penuh akan duri yang menguatkan ini namun begitu indah jika di hadapi dengan ikhlas. Yaitu seluruh insan yang di masa lalu dan juga seluruh insan di masa kini. Karena, jiwa dan hati ini tak ingin dan tak akan pernah berharap dan mencoba untuk menghilangkan rasa sayang dan peduli yang tumbuh pada ukhuwah islamiyah.
Sekian.

Komentar