Membandingkan satu hal dengan yang lain tentu
hal yang kurang baik. Lebih-lebih jika yang dibandingkan adalah masa lalu
dengan masa kini, masa yang selalu ditemui, masa dimana jiwa ini berada. Namun,
apalah daya diri manusia yang baru saja mengalami mobilisasi kehidupan. Terkadang
selalu muncul berbagai pertanyaan didalam hati, jiwa, dan pikiran ini mengenai
situasi di lingkungan baru ini. Pertanyaan itu selalu muncul dan diri ini pun
belum pernah dapat menjawab dengan sebuah jawaban yang meyakinkan untuk
menyalahkan situasi yang membuat frekuensi kegundahan jiwa meningkat. Pertanyaan
demi pertanyaan selalu terucap kepada orang-orang yang bisa dikatakan sama atau
sejenis dengan orang-orang dimasa lalu, orang-orang yang selalu memberikan
ketenangan didalam jiwa jika bertemu dan berkumpul dengannya, orang-orang yang
selalu membangkitkan semangat ketika menatap wajahnya, orang-orang yang selalu
memberikan jawaban-jawaban atas permasalahan yang ada. Mungkin kata sejenis atau identitas yang sama
tidaklah selalu membuat pribadi dua orang yang berbeda menjadi mirip satu sama
lain. Sungguh hal ini bukan karena perbedaan mazhab, guru, atau murobbi
maasing-masing dari mereka. Karena, pastilah apa yang mereka dapatkan adalah
sama. Ya, sama-sama untuk mensyiarkan kebaikan kepada penghuni negeri ini.
Namun, ada sesuatu yang membuat mereka berbeda. Entahlah apakah itu penilaian
dari rasa pembelaan diri ini yang ingin mendapat jawaban yang menegaskan
kesalahan pada lingkungan ini atau memang perbedaan itu nyata adanya. Jawaban-jawaban
pasti yang selalu diharapkan dari
orang-orang masa kini pun jarang teraih. Entahlah, tak ada maksud untuk
menyalahkan mereka, tak ada maksud untuk memaksa mereka menjadi seorang yang
mirip seperti orang di masa lalu. Ya, karena jiwa ini pun takut, takut jikalau
perasaan gundah yang selalu muncul ini adalah kesalahan dari diri ini sendiri,
ya itulah jawaban yang selalu dapat menghentikan pikiran yang terus menyalahkan
orang-orang tak bersalah itu.
Rindu akan kehidupan yang selalu
diiringi dan diselimuti semangat yang menggelora untuk melakukan
kebermanfaatan, rindu akan setiap diskusi yang mengajarkan sebuah penyelesaian
terbaik untuk setiap masalah, rindu akan obrolan-obrolan mengenai kebesaran
Allah, rindu akan canda dan tawa yang bermanfaat, rindu untuk melakukan pengorbanan,
rindu untuk berkontribusi, rindu untuk melakukan aksi, rindu akan masa lalu
yang selalu menumbuhkan rasa bahagia disetiap kesederhanaan ketika bersama. Terkadang
terlintas didalam hati ini apakah mungkin masa kini mengalami transisi kondisi
ke masa lalu. Andaikata bisa, tidaklah mungkin tulisan ini hadir.
Dalam diam diri ini selalu
mencoba untuk mengamati lingkungan ini, dalam diam diri ini selalu mencoba mencari
celah yang akan menghubungkanku dengan mentari yang dapat memancarkan
kehangatan semangat kepada hati dan jiwa diri ini, dalam diam diri ini selalu
mencoba mencari tempat yang tepat yang mampu memberikan kenyamanan, dalam diam
diri ini selalu mencoba mencari alasan untuk terus mempertahankan rasa sayang
dan cinta kepada mereka ditengah beribu pertanyaan yang terus mencoba
menggugurkan perasaan-perasaan tersebut.
Sadar bahwa ada yang salah
dengan rasa gundah ini, sadar bahwa tak seharusnya memperpanjang hal ini, sadar
bahwa rasa ini hanya akan sia-sia, sadar bahwa rasa ini hanya akan semakin
menghancurkan jiwa dan hati yang sudah dibangun untuk menjadi tangguh sehingga
kuat menghadapi sesuatu yang buruk seperti rasa kegundahan ini.
Sungguh, sebenarnya jiwa ini
sadar bahwa ada tugas lain yang harus dilakukan, sadar bahwa sudah ada beribu
manusia yang mengharapkan kontribusi nyata dari orang-orang yang tertarbiyah, dan
tentunya diri ini pun sangat sadar bahwa sudah banyak pihak yang berkorban dan
mengharapkan keberhasilan diri ini pada bidang keilmuan.
Namun, beginilah manusia yang
selalu saja mempertahankan ego, tak ingin mengatakan dirinya bodoh tetapi terus
melakukan hal yang memaksanya untuk mengatakan bodoh kepada dirinya. Penyesalan
itu datang ketika beberapa bahkan berpuluh-puluh kalimat suci hilang dari
ingatan, penyesalan itu datang ketika beberapa kalimat-kalimat sakral dalam
kehidupan hilang dari ingatan. Entahlah, hati ini tak ingin terus menyalahkan
jiwa yang dipimpinnya. Biarlah rasa gundah ini terus merajut sangkarnya hingga
tiba saat derasnya hujan semangat yang permanen menghancurkannya dari pangkal sampai
ke ujung benang kegundahan. Biarlah penyesalan
ini hadir untuk menumbuhkan beribu-ribu kesadaran yang akan memperkecil
probabilitas kehadirannya pada diri ini.
Karena sungguh hati ini masih
dan akan terus menyayangi dan menjaga seluruh insan yang bersama-sama berada dijalan
yang penuh akan duri yang menguatkan ini namun begitu indah jika di hadapi
dengan ikhlas. Yaitu seluruh insan yang di masa lalu dan juga seluruh insan di
masa kini. Karena, jiwa dan hati ini tak ingin dan tak akan pernah berharap dan
mencoba untuk menghilangkan rasa sayang dan peduli yang tumbuh pada ukhuwah
islamiyah.
Sekian.
Komentar
Posting Komentar